web site hit counter sastrawiguna@blog.indosiar.com
     
    HOME BLOG
   
  Sastrawiguna
http://sastrawiguna.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
   
   

PENGUMUMAN:
Drop Box
 
" Dan pertemuan itupun....!! "
Kamis, 3 Juli 2008 @ 10:12 WIB - Diari


Ini perjalananku menuju Pameran Buku Jakarta 2008, yang gaungnya sudah terasa sejak aku melibatkan blogku sebagai salah satu peserta lomba.

Sebelum berangkat aku sudah janjian dengan dua orang sobat, yang pertama Deesan sang jawara lomba cerpen Roseheart, dua kali berturut-turut, sebelumnya kami pernah kopdar di Garut, dan seorang lagi blogger baru di indosiar mahasiswa psikologi UI Fuad
Jadi ada dua orang sobat yang akan menjemputku hi hi hi..belagu...

Sepanjang perjalanan aku ditemani oleh sms dan sms, begitulah caraku membunuh waktu agar tak sampai jenuh.
Pun menghilangkan sedikit kecemasan...yah hanya sedikit saja.
Cemas, Deesan ada halangan, Fuad ternyata tidak menemukanku, lalu Raihan dibagi rapor, aku tidak mendampinginya dan terpaksa mendelegasikan tugasku kepada c teteh Icha.

Tak terasa saat bertemupun tiba, ada Deesan yang sudah datang lebih awal beberapa menit dariku. Kami berpelukan, kangen.
Sambil minum tidak berapa lama muncul Fuad.
Kemudian disusul Loiy dan Mboel. Eeehh..aku baru tau Mboel-nya Loiy, mantapz deh segala macamnya udah matching ama Loiy.

Tidak ingin terlalu lama menunggu waktu, kami berangkat langsung menuju PBJ, setelah berpisah dengan Loiy dan Mboel, dan berjanji untuk bertemu lagi, tidak lupa aku titip tas pakaian, hi hi hi..makasih Loiy !

Sesampainya di PBJ, aku ketemu dengan masboi dan Abel. Dan ahaaaaa....ada pertemuan luar biasa dan amat dinantikan yaitu saat bertemu dengan Jini ku sayang.
Akhirnya aku bisa berpelukan dengan Jini sang penulis cerpen “Perjalanan Impian “ nya di buku 3C....wuiiiiiiiiiihhhh..cantik, imut, putih,bersih,senyum terus dan ngocehnya gak berhenti” yaahh, duniapun amat memakluminya.

Karena buku 3C belum sampai di stand LKIS, aku melanjutkan perjalanan, sebelumnya aku gak tau mau dibawa kemana oleh seorang laki” berbadan kekar, berkaus biru, berkacamata, aku ikut saja seperti sobat” yang lain. Hehehe..ternyata makan dan futu” bersama. Keliatan banget aku dan Jini tuh menikmati ke-berdua-an, narsis abis.

Akhirnya aku berpisah dengan Jini. Alangkah baik hatinya mas Boi, ternyata tidak cukup mentraktir kami makan tapi mendrop kami di Inul Vista.
Ampun deh seperti tidak ada hari esok.
Empat jam aku, Abel, Deesan lalu Loiy dan Mboel datang menyusul, berkaraoke ria.
Tak ada capeknya, sungguh mengherankan padahal hampir lima jam aku berada dalam perjalanan Garut-Jakarta.

Tersadar saat suaraku hampir habis dan serak, tenagaku hampir terkuras.
Hampir jam 24 aku sampai di rumah Deesan. Bukannya langsung beristirahat setelah kelelahan, tapi malah dilanjutkan dengan ngobrol ria sampai jam 02.30.
Lamat” masih terdengar suara Deesan...samar" aku melihat sebuah bayangan, wajah seorang sahabat yang menungguku, cemas, di ujung sana...lalu akupun terbang bersama mimpi.



Disarankan: 0
  Komentar: 10 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print




" Taman Simpang Lima Dalam Kenangan "
Minggu, 22 Juni 2008 @ 18:04 WIB - Diari


Menyusuri jalan yang diselimuti kabut tipis itu, ia seperti memasuki lorong-lorong masa silam yang sunyi dan mencekam. Desir angin menggugurkan dedaunan tua di ranting pohon. Menari gemulai di udara sebelum tersungkur ke bumi. Menatapnya, ia seolah mendengar hymne kematian sayup-sayup sampai.

Minggu pagi yang dingin. Seorang wanita berwajah teduh, di sebuah taman simpang lima, ia putuskan mengaso setelah lelah berjalan pagi. Duduk di bangku taman.Seorang lelaki yang telah lama hilang ditelan waktu, tiba-tiba menjelma di pelupuk matanya. Di taman itu hampir delapan belas tahun yang lalu, ia pernah menitipkan kenangan. Kini ia datang lagi, tapi dengan penuh kesadaran tak mungkin menggenggamnya kembali. Ia hanya ingin bernostalgia, seperti membuka album foto usang yang teronggok berdebu dalam gudang.

Kota kenangan itu bernama Garut. Ia putuskan kembali ke sana, tempat ia melewati separuh usianya. Ia kangen pada anak keduanya, putri satu-satunya yang tinggal di kota kecil itu. Di sana ia hidup bahagia bersama suaminya. Dua bulan lagi dia akan melahirkan anak keduanya, minta ditemani saat persalinannya nanti.Namun dibalik semua alasan itu, sesungguhnya ia masih menyimpan satu rahasia. Selama ini tak ada yang bisa mengorek isi hatinya dan menemukan sesuatu yang tersembunyi di sana. Hanya ia sendiri yang tahu, bahwa sudah belasan tahun ia pelihara kerinduan yang mendalam pada kota INTAN.

Tanggal dua belas Nopember, ia singgah lagi ke tempat itu. Sebuah taman tanpa bunga, nyaris dipenuhi belukar. Jam setengah enam, taman lenggang. Ia tertatih menuju bangku panjang tempat ia mengaso. Tiba-tiba batinnya berdesir mendapati punggung seorang laki-laki bersweter biru tua sedang duduk mencakung di sana. Seketika sosok itu mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu.

“ Jin.... “
“ Zoe....”
pasang manusia itu nampak salah tingkah , meredakan gelombang gelisah.
Sunyi terasa ngilu bercampur haru, juga rindu. Kenangan itu kembali menjerat mereka.
“ Tak kusangka kita bisa bertemu lagi, berapa tahun Jin? Delapan belas tahun? Mungkin lebih !”. Jini sedang terpukau menatap seekor kupu-kupu semadi di pucuk ilalang. Zoe pun seolah tak membutuhkan jawaban. Fikirannya kembali ke masa silam.

“ Lantas apa yang menuntunmu kembali ke taman ini ? “
“ Tiap orang punya kenangan, itulah yang menuntunku kemari “
Jini menghela nafas sebelum menyambung kalimatnya. “ Selamat ulang tahun Zoe..” Ya hari itu usia Zoe tepat enam puluh tahun.

Waktu adalah hakim yang paling adil. Belasa tahun berlalu. Sekian kisah telah dituai. Pagi itu, perjalanan hidup mempertemukan mereka kembali dalam suasana jauh berbeda.

“ Sudah berapa cucumu, Jin ? “
“ Delapan. Kau? “
“ Sedang menunggu cucu keenam. “ Lalu keduanya terkekeh. Hidup ini lucu, mungkin fikir mereka.

Pertemuan dan perpisahan nyatanya sama-sama nikmat setelah mengambil jarak dan menempuh jalan yang berbeda. Enam hari kemudian mereka bertemu kembali di tempat yang sama.

“Masih ingat ini, Jin?” Zoe mengulurkan sebuah buku bersampul hitam bertuliskan “ Three Colours “di genggamannya. Jini terkesima menyambutnya. Ia tak menyangka Zoe masih menyimpan buku sisa kenangan itu. Disibakkannya lembar demi lembar buku itu tanpa sepatah kata pun. Tanda tangan mereka masih jelas tertera di buku itu. Ada aroma masa lalu menyengat. Tangannya gemetar. Ia nyaris tidak percaya sedang membaca tulisan tangannya sendiri yang ia buat hampir dua puluh tahun yang lalu. Semua isi hatinya dan perjalanan hidupnya hampir semua tertera di sana. Ia pernah berandai-andai, buku itu ibarat cincin yang yang dirangkai dari kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana.

Jini mengatupkan pelupuk matanya, dan menutup buku itu bersamaan. Ia tak sanggup lebih lama lagi membaca isinya.

“ Masih adakah yang kau cari dalam hidupmu, Jini ?”
“ Di sisa hidupku, aku hanya ingin dekat dengan Tuhan. Belum sempurna ibadahku. Semoga saja aku diberi jalan ke sana”

Lama mereka membisu, terseret arus perasaan masing-masing. Mereka seperti peziarah yang yang singgah di sebuah nisan tanpa nama, merangkai sisa kenangan, berkaca pada lampau dan hari-hari kini, untuk kemudian pergi lagi.

Begitulah. Setelah saling berpamitan, keduanya beranjak pergi menuju arah mata angin yang berbeda. Jini ke utara dan Zoe menuju ke selatan.. Sekitar tiga puluh meter meninggalkan taman simpang lima, seolah ada ada kekuatan yang entah dari mana, yang memaksa mereka menengok ke belakang.

Dua manusia lanjut usia itupun bertatapan. Gamang. Tak ada senyuman. Tak ada lambaian tangan. Hanya sunyi dan haru yang membentangkan jarak menyakitkan. Mereka sama-sama menyadari, ada yang tak sempat terurai, ada yang tak sempat terangkai, namun terasa indah. Bunga soka merah gugur satu satu. Jatuh menerpa bumi. Mereka kembali melanjutkan langkah. Jalan pulang terasa jauh.

****

Sebuah tulisan tentang sebuah kenangan.
Bila saat itu masih ada dan aku masih bisa menggenggamnya.

Dedicated to :
Jini : ” Mungin sudah punya mantu atau, bahkan cucu, Jin “
Mhimi : “ Anakmu sudah berapa ya, Mhi ? “
Mas Koes dan Ratu : “ Perlu honey moon kedua ke Kampung
Sampireun “

Harry : “ Apakah ketawamu masih renyah seperti krupuk udang Sekalipun sudah punya anak perawan dan bujang? "




Disarankan: 0
  Komentar: 17 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



" Lelaki Seribu Pulau "
Jumat, 20 Juni 2008 @ 22:58 WIB - Diari


Lelaki itu mengepalkan tangannya kuat kuat, seakan ingin menghantam benda apa saja yang berada di hadapannya. Giginya gemerutuk menahan amarah. Hatinya menangis kecewa.


Dihadapannya duduk seorang perempuan muda cantik. Wajahnya tepekur menunduk,
bersimbah airmata.Dibiarkannya air mata itu mengalir.

Hampir saja lupa bahwa selang beberapa jam sebelumnya ikrar sehidup semati sudah dipahatkan . Bersama mengarungi mahligai rumah tangga dalam suka dan duka dalam papa dan kaya

Aroma melati dan sedap malam yang memenuhi kamar pengantin nan indah, sudah tidak dihiraukannya lagi. Semuanya seolah sirna berganti aroma busuk yang menyesakan dada.
Dipalingkan mukanya yang keruh dari gemerusut sprei putih pengantin bertabur untaian melati .

“Aku tidak menemukan hentakan garang yang melambungkan segenap denyut nadiku..Tiada tirai manis yang harus kubuka dengan manja.Hanya ruang hampa dan .Aku tak bisa bersenyawa dengan perempuan terkasihku” , batinnya.


Dengan tatapan kosong lelaki itu memandang wajah perempuan dihadapannya..
Belahan hati, perempuan terpilih yang dicintainya. Telah diputuskan hatinya akan ditambatkan untuk perempuan itu lalu ia akan menjadi nakhoda perahu yang akan dilabuhkan kemudian akan menjelajahi kehidupan sampai maut memisahkan. Ia berjanji akan membuat surga kecil di rumahnya, yang kelak dipenuhi oleh tawa canda anak anak yang kelak akan dilahirkan wanita itu. Alangkah indahnya.

” Inilah pelabuhan terahirku, beberapa dermaga pernah kusinggahi.
Aku pernah mencicipi baunya kesturi dari beberapa putri….tapi perempuanku…duhai perempuan terahirku, engkaulah yang paling suci “

Bait puisi itu berputar mengelilingi setiap tarikan nafasnya , menohoknya dari belakang, kanan, kiri, depan. Lalu mencibirnya, kemudian menyumpahinya dengan kata kata penuh penghinaan.

“Sungguh nista,…engkau berharap kesucian darinya…sementara engkau lumuri hidupmu dengan dosa, diantara desah nafas wanita penjaja cinta dan wanita yang engkau sebut kekasih “

”Dan perempuan yang sekarang sudah menjadi istriku, perempuan terahirku, cukup adilkah bila dia harus menerima akibat lantaran kesombonganku sebagai lelaki, kemunafikan ku, kepura puraanku. Apakah aku harus mengutuk dia, mencampakkan dia,
hanya karena dia tidak memberikan “kesucian” seperti pada bait-bait puisi “, batinnya berperang.

Bagai baru tersadar dari mimpi panjang, diraih kedua tangan halus perempuan itu lalu diciuminya berulang ulang, dengan segenap cinta.

”Perempuanku, belahan jiwaku, aku akan menemukan surga di hatimu.
Tidak akan kucari lagi noda merah dadu di sprei putih pengantin kita.
Biarlah dia pergi tanpa jejak. Seperti jejakku yang tak berbekas di seribu pulau yang pernah aku singgahi….


Disarankan: 0
  Komentar: 8 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



S E L A N J U T N Y A »



 

website

Free shoutbox @ ShoutMix

bunda okky

------------------------------------------------- ------------------------------------------------- ------------------------------------------------- Photobucket
Koesplator
 
    » Profile
    » Buku Tamu
" dan pertemuan itupun....!! "
" taman simpang lima dalam kenangan "
" lelaki seribu pulau "
" bidadari nostalgia dari masa lalu "
" tuwer siapa yhaaaa...??? "
Arsip Blog 
CARI BLOG:
Euro Wordcup Football
Visit Indonesia Year
All About Love
Email
bubu_okky
haerulsohib
deesan
yuzi_biyan
riu_aj
Total: 1172 
ochep return
Risa Rahmawati
biSot area
KOPITOZIE
seru deh ceritanya .....
wuih asik banget...sa...</