web site hit counter ade_mania@blog.indosiar.com
     
    HOME BLOG
   
  P0c4h0nt4s@blog.com
http://ade_mania.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
   
   

PENGUMUMAN:
Drop Box
 
I Love You, My Blog...
Jumat, 11 Mei 2007 @ 09:52 WIB - Diari


"Blog gue terbengkalai!"

Begitu pikiran saya beberapa hari ini, benar2 tidak ada ide untuk nulis. Sebenernya sih ada, kemarin ingin nulis sesuatu tentang mencari kebahagiaan dan semepet juga terlintas ingin nulis tentang artis baru namanya Mika untuk Indian Kecil, tapi baru mulai satu paragraph sudah bingung untuk mencari kata lagi. Hehe, memang ngga bakat untuk menulis, jadi mungkin ngga perlu dipaksakan untuk menulis dengan bagus yah.

Jadi beginilah, hari ini menulis blog seadanya. Tidak ada ide khusus apa yang ingin ditulis, hanya merasa kangen banget dengan blog pink ini dan teman2 bloggers yang lain . Masih seperti sebulan belakangan ini, sibuk cari cari J-Dorama dan K-Dorama, asyik download manga dari mulai Prince Of Tennis, Naruto dan One Piece. Tapi ngga bisa dipungkiri, rasanya tetap kangen untuk menulis blog lagi. Yup, blog indosiar has become one of the most important thing in my life.
That's all for today, mudah2an besok bisa ngeblog dengan ide yang lebih baik lagi (Osh, doakan saya, Baxa ! ). Yang penting Have A Nice Bloggin' Day Everybody !


Disarankan: 0
  Komentar: 14 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



My Favourite Manga
Rabu, 2 Mei 2007 @ 15:43 WIB - Musik, Film & Hiburan



Beberapa hari ini sampai lupa ngeblog karena baru menemukan website untuk download manga dan anime. Langsung saja saya curi-curi waktu untuk browsing my favourite manga, Fruit Basket dan One Piece. Niatnya sih mau download Naruto juga, tapi masih belum sempat.

Bagaimana yah, sangat sulit mencari kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan dua manga diatas. Pengarang Fruit Basket pasti psikolog yang jenius, karena dia bisa membuat komik dengan kata-kata yang menghangatkan jiwa pembacanya. Pertama kali baca di edisi awalnya memang lumayan bingung karena banyak perkataan tokohnya yang menggantung, tapi ternyata itu memang disengaja penulis untuk dijelaskan di bab-bab terakhir. O iya, mungkin satu kata yang pantas untuk menggambarkan Fruit Basket itu cuma satu, yaitu 'sweet'. Ceritanya bisa membuat orang menangis, tapi diakhirnya pasti kita tersenyum bahagia dengan happy ending ala Fruit Basket.
Sementara Eichiro Oda, pengarang One Piece bisa berbangga karena karyanya ini bisa disebut 'Master Piece' atau maha karya. Tadinya saya tidak tertarik untuk menonton animenya atau membaca manganya, karena gambarnya 'ngga cantik'. Tapi ceritanya... wiiii... setiap petualangan Luffy dan kawan-kawan mengarungi lautan Grand Line selalu ditunggu oleh penggemarnya diseluruh dunia. Oda sendiri yang berencana mengakhiri komik tersebut dalam lima tahun ternyata mundur dari jadwalnya, saya pribadi sih tidak keberatan kalau komik itu masih dilanjutkan untuk sepuluh tahun lagi, and I'm really proud to be part of this master piece. Kehebatan One Piece tentu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi bagi yang sudah membaca komiknya, pasti merasakan semangat menyala bila mendengar kata Bajak Laut. Episode favorit saya tadinya adalah petualangan di Pulau Langit, tapi setelah membaca petualangan 'Kelompok Bajak Laut Topi Jerami' menyelamatkan salah satu teman mereka dari penjara pemerintah dunia di Enies Lobby, saya langsung berpikir 'this is my favourite one'. Mungkin kalau sudah membaca bab yang lain, saya juga akan berubah pikiran.

Berikut juga cuplikan episode yang bikin saya menangis di meja kerja saya hari ini. Saat kelompok bajak laut Topi Jerami mengucapkan selamat tinggal kepada Going Merry, kapal yang sudah membawa mereka melalui banyak petualangan. Walaupun dalam keadaan rusak berat, Going Merry menempuh perjalanan terakhir untuk menyelamatkan 'nakama'nya.
I'm not making any sense right ? Mana mungkin didunia ini ada orang-orang bisa berbicara dengan kapal ? Tapi inilah dunia One Piece, dengan kekuatan hati maka segalanya bisa terjadi...


Disarankan: 0
  Komentar: 9 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



My Boss, My Hero
Senin, 23 April 2007 @ 08:18 WIB - Musik, Film & Hiburan



Satu lagi drama Jepang yang ingin saya share untuk bloggers yang lain pagi ini. My Boss, My Hero !
Ada yang masih ingat saat-saat masih jadi murid SMA atau ada yang saat ini masih duduk di bangku SMA ? Bagi saya yang sudah delapan tahun melewatinya, film ini dapat membuat tersenyum dan mengingat lagi tiap kenangan selama tiga tahun bersama teman-teman.
Ceritanya tentang Sakaki Makio, 27 tahun, scorpio, hal yang paling disenangi adalah alkohol, berkelahi, berjudi, wanita dan puding. Makio adalah tuan muda dan merupakan calon pemimpin dari sebuah keluarga yakuza yang kaya dan berkuasa. Sayangnya, walaupun usianya yang sudah bangkotan, Makio tidak bisa menghitung lebih dari 27 dan tidak bisa menulis namanya dalam Kanji maupun Hiragana. Maklumlah, dia berhenti sekolah ketika SD karena dia tidak bisa berpikir lebih dari 90 detik. Sebagai seorang tuan muda, tentu saja tidak ada yang melarangnya untuk tidak bersekolah, bahkan ayahnya sendiri.
Hal ini sangat disesali ayahnya sekarang, dan dia pun menetapkan syarat bila Makio ingin menjadi pemimpin geng yakuza mereka, dia harus menamatkan SMA. Akhirnya Makio dimasukkan ke St. Agnes Academy, dimana kepala sekolahnya adalah teman baik sang ayah. Makio menyembunyikan sepuluh tahun umurnya dan menjadi murid SMA kelas 3-A.
Makio yang menjadi bahan ejekan teman-teman sekelas karena kebodohannya makin tidak menyukai sekolah. Satu-satunya yang menarik baginya adalah puding yang dijual di kantin sekolah. Puding istimewa itu luar biasa enaknya dan hanya dijual 12 buah tiap hari. Jadi setiap jam 12, murid-murid sekolah tersebut berubah menjadi barbar dan berlomba untuk mendapatkannya.



Makio mulai menyukai sekolah ketika dia berhasil membeli sebuah puding dengan bantuan teman sekolahnya, Sakura Koji dengan menggunakan ilmu fisika. Bagaikan Helen Keller yang baru belajar kata air (semua tahu Helen Keller kan ?), Makio juga baru tahu arti dari ilmu pengetahuan.
Hari demi hari, yang terjadi adalah kelucuan demi kelucuan, seperti berusaha menjadi ketua kelas, mencoba memenangkan turnamen bola, melewati ujian, test keberanian, sampai festival budaya.
Yup, Makio belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat mencari ilmu pengetahuan, tapi juga tentang menimati masa muda. Cinta, persahabatan, belajar dan perjuangan semuanya merupakan hal-hal penting yang membuat seseorang menjadi manusia dewasa yang lengkap.

Diakhir film, bloggers yang saat ini masih SMA pasti akan lebih menghargai waktu yang tersisa di sekolah. Buat yang lain yang sudah lama meninggalkannya pasti akan tersenyum sambil mengingat masa SMA yang indah.

Akhir kata, film ini sangat saya rekomendasikan untuk akhir pekan anda. Ada versi Korea dan versi Jepang, yang pertama itu mungkin saya belum sempat lihat, tapi yang versi Jepang juga tidak kalah bagusnya.


Disarankan: 0
  Komentar: 14 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



Menanti Impian
Selasa, 17 April 2007 @ 16:28 WIB - Novel


Menanti Impian
CHAPTER:
NILAI: Cukup Bagus
TOTAL PEMILIH: 9
Kuambil napas dalam-dalam, bau tanah yang masih basah terasa menyegarkan pikiran dan menghapus segala kerisauanku. Hari ini hari keempat aku di Jakarta, kota kelahiran dan tempat ku dibesarkan. Sudah tiga tahun aku meninggalkan kota ini untuk menyelesaikan studi S-2 di sebuah perguruan tinggi swasta di New York. Selesai kuliah aku diterima bekerja sebagai staff humas sebuah kantor pengacara yang cukup besar, dan tadinya aku sudah melupakan keinginanku untuk kembali menetap di Jakarta. Tapi mulai hari ini semuanya akan berubah, aku tersenyum menatap bayanganku di cermin. Hari ini, Luki, kekasihku dari SMA akan datang dengan ibunya untuk melamar, dan membicarakan kemungkinan pernikahan kami di tahun ini.
Pernikahan, gadis mana yang tidak bermimpi menjadi pengantin ? Ketika cinta diwujudkan dalam ikatan suci dan agung yang bernama pernikahan, dan berjanji untuk saling menjaga dan mencintai sampai maut memisahkan. Aku sendiri selalu berangan-angan dilamar lelaki yang ku cintai dengan romantis dan kami akan menikah, mungkin sekitar umur 24 atau 25 aku ingin mempunyai anak. Aku berpikir, kelak jika anakku akan menikah, aku masih belum terlalu tua untuk pensiun dan masih mempunyai penghasilan sendiri sehingga tidak perlu merepotkannya. Tapi impianku sirna karena Arief mengatakan belum siap untuk melamarku, dia merasa belum mapan untuk memulai sebuah keluarga sendiri di usianya yang hanya setahun lebih tua dariku. Bukannya aku tidak mengerti kekhawatirannya, tapi bukankah semakin lama kebutuhan hidup akan terus meningkat, bila kita terus menunggu dan menunda memiliki keturunan, bukankah kedepannya akan lebih berat. Belum lagi kedua orangtuaku yang sudah menanyakan arah hubungan kami yang sudah tujuh tahun. Rupanya mereka sudah jengah dengan para tetangga dan saudara yang ribut menanyakan kapan akan menyebar undangan untuk putri sulung mereka. Dengan susah payah ku cegah niat Bunda yang ingin menanyakan langsung pada Arief, aku takut mereka akan kecewa dengan jawabannya. Bagi mereka Arief itu sosok menantu yang sempurna, dan bukan hanya itu, Arief memang lelaki yang hampir sempurna. Walaupun wajahnya tidak terlalu cakap, tapi hatinya baik dan jujur. Tujuh tahun berpacaran dengannya tidak membuatku bosan dan aku tidak pernah meragukan cintanya, dia bukan tipe lelaki yang sibuk melirik perempuan lain, dia selalu bersyukur sudah memilikiku, perempuan cantik yang mencintainya apa adanya. Ya, aku tidak pernah berpikir mencari suami yang tampan ataupun kaya, aku mencintainya karena dia sederhana, bisa membuatku tertawa, taat beribadah dan sangat menyayangi keluarga, dia tidak pernah menjanjikan hal yang tidak bisa dia tepati. Mungkin itu sebabnya selama tujuh tahun dia tidak pernah membicarakan tentang pernikahan, kecuali janji bahwa dia memang berniat untuk menikahiku suatu saat nanti. Aku yang kecewa dan sakit hati waktu itu memutuskan untuk meninggalkan impianku untuk menikah dan mengambil beasiswa ke New York. Kami masih menjalin hubungan dengan baik, tapi aku sudah tidak berharap banyak darinya. Tiga tahun telah berlalu dan kebekuan dihatiku mencair ketika suatu hari dia membaca pesannya yang berniat datang untuk melamar. Aku kembali ke Jakarta dengan hati yang berbunga-bunga dan segudang impian untuk memulai kehidupanku dengannya.

“Kalau begitu, sebaiknya akhir tahun ini juga pernikahannya kita adakan ya” usul Ibu Arief.
Orangtuaku tersenyum mendengarnya, ini adalah resepsi mereka yang pertama dan kami bersemangat untuk menyiapkannya.
“Untung waktu itu Bu Rahmat menelpon saya, kalau engga saya ngga tau apa-apa dari Arief” lanjutnya
“Bukan begitu mah, aku kan pernah cerita adiknya Dinda sudah berencana menikah dengan pacarnya sesegera mungkin” kata Arief pada Ibunya.
“Iya, gak papa kok Bu, saya juga jadi ngga enak karena takutnya merepotkan keluarga Ibu “ Bundaku berkata.
“Tidak mungkin, Dinda kan sudah sepuluh tahun berpacaran dengan Arief, saya juga sudah menganggap anak saya sendiri….”
“…Tante, memangnya Ibu saya bilang apa ya ?” aku bertanya tidak mengerti.
“Itu lho Din, adikmu Ratna dan pacarnya kan sudah sama-sama kerja, dan mereka berniat menikah secepatnya. Apa kata orang kalau kamu dilangkahi seperti itu ? Jadi Ibu bertanya pada Ibunya Arief apa pernikahan kalian bisa dipercepat tahun ini. Kata orang dulu, pernikahan itu sebaiknya hanya sekali setahun dalam rumah, pamali katanya” jelas Bunda.
“Benar Din, kalau kalian menikah tahun ini, maka adikmu bisa menikah di tahun depan kan ?” sambung Ayah.
“Oh begitu…” Aku tenggelam dalam pikiran-pikiranku sendiri, tidak lagi kurasakan kebahagiaan dan semangat untuk pernikahan kami.
“Ayah, Bunda….” Aku berkata perlahan “Tante, begini… saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini”
“Lho ? Kamu kenapa Din ?” Tanya Ayah.
“Lusa saya harus kembali ke New York, yah. Ada urusan penting yang harus saya selesaikan disana”
“Oh, maksudmu kamu akan mengurus pengunduran diri kan nak ?’
“Iya Bunda, saya memang berniat mengundurkan diri, tapi bukan untuk kembali ke Jakarta, saya berencana membuka usaha disana bersama beberapa teman” jelasku sambil berusaha tersenyum.
“Kamu kenapa Din ? Sejak kapan pekerjaan jadi lebih penting daripada pernikahan kita ?” Arief memandangku tak percaya.
Sampai akhir malam itu aku tidak bergeming dengan keputusanku. Sudah kutetapkan untuk membatalkan rencana pernikahan ini dan lusa aku akan kembali ke New York. Tidak ku hiraukan bujukan dan pertanyaan mereka.
Keesokan paginya, ketika aku membereskan pakaianku kedalam koper, Bunda masuk dan memandangku. Tatapannya terlihat sedih dan kecewa.
“Kenapa nak ? Kenapa kamu akan pergi lagi ? Kamu tidak mau berkumpul bersama keluargamu seperti dulu lagi ?”
“Bunda, kenapa Bunda harus menelpon mamanya Arief dan menanyakan pernikahan kami ?” tanyaku berusaha menahan getar amarah dan kesedihan.
“Kok kenapa ? Kan sudah Bunda bilang, Ratna ingin segera menikah, kamu dan Arief sudah sepuluh tahun pacaran, apa kata orang-orang kalau ternyata adikmu menikah lebih dulu dari kamu ? Apa kamu tidak akan merasa malu ?”
“Bukankah lebih malu jika kita harus meminta pihak lelaki untuk melamar Bunda ?”
Bunda terdiam beberapa saat “Kamu pikir Bunda dengan senang hati bertanya ke mamanya Arief kapan akan melamar kamu ? Bunda dan Ayah juga malu Din, tapi kami berpikir untuk kebaikan kamu. Kami sudah cukup lama menunggu kau menyelesaikan masalah ini, tapi kamu malah melarikan diri keluar negeri. Sekarang kamu sudah 28, sudah ngga penting siapa yang duluan berinisiatif, yang penting kamu dan adikmu segera menikah” dia memalingkan muka menahan tangis. “Kamu ngga tau sih perasaan orangtua yang mempunyai dua anak gadis, berat tanggung jawab kami Din. Setiap malam kami selalu khawatir siapa yang akan mengurus kalian bila kami tidak ada, apakah kalian akan baik-baik saja, apalagi pergaulan anak-anak sekarang yang terlalu bebas. Ayahmu dan aku, kami lebih baik mati daripada menanggung malu jika terjadi sesuatu pada kalian”
“Bunda, maaf…” Aku menangis di pundaknya “Aku tidak bermaksud menyakiti hati kalian, tapi tolonglah mengerti perasaanku. Aku sudah menghabiskan sepuluh tahun hidupku bersama Arief, apa yang kurang dariku sebagai perempuan ? Apa aku tidak pantas mendapatkan kata lamaran darinya setelah semua yang kami lewati bersama ? Apa aku harus merendahkan diri dan meminta dia untuk menikahiku hanya karena takut dengan omongan orang ?” tanyaku
“Bunda, aku berjanji aku tidak pernah dan tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat kalian malu dunia akhirat. Tapi tiga tahun yang lalu aku sudah bersumpah tidak akan menikah dengan Arief kecuali dia memintanya langsung. Bukan karena disuruh oleh orangtua atau pihak yang lain”
“Jadi kamu akan tetap pergi nak ?” Tanya Bunda mengelus rambutku.
“Maaf Bunda, aku sudah memilih jalanku dan tidak mungkin kembali lagi. Doakan saja anakmu ini agar tidak salah melangkah kedepan nanti”

Dan hari keberangkatanku pun tiba, di bandara Arief menurunkan tasku masih dengan cemberut.
“Aku ngga ngerti sama kamu, kenapa Din ? Jangan menjawab karena pekerjaan, aku tahu benar kamu ngga seperti itu” dia memandangku “Apa aku tidak cukup baik untukmu ? Atau kau sudah berubah pikiran ?”
“Bukannya dulu kau yang menolak menikah denganku ?” tanyaku dingin
“Dinda, dulu itu kita masih belum apa-apa. Aku belum mencapai posisi associate seperti sekarang ini. Kita belum mapan Din”
“Mapan ? Apa arti kemapanan itu Rief ? Waktu itu kita sama-sama sudah mempunyai penghasilan dan tabungan. Gelar sarjana pun sudah kita peroleh. Aku ngga pernah menginginkan kemapanan dari awal, aku lebih senang bila kita bisa meraihnya bersama-sama”
“Kenapa sih kamu harus egois seperti itu ? Aku melakukan ini untuk kamu, agar kamu bahagia bila kita menikah nanti”
Aku menangis “Aku egois ? ternyata sepuluh tahun pacaran tidak menjamin kita benar-benar mengenal orang tersebut. Terserah kalau kamu berpikir aku egois, aku tidak perduli lagi. Tahu apa kamu soal kebahagiaanku ? Kalau kamu ingin menikah saat benar-benar mapan, kenapa ngga sekalian lima tahun lagi saja ?” Aku menarik tasku dan berlari melewati garis, tidak lagi ku tengok Arief yang memanggilku

“Dinda, ada yang nyariin kamu tuh” kata Agnes sambil mengerling ke arah pintu. Kami sedang makan siang di salah satu restaurant favorit kami di New York ini. Aku dan beberapa teman memutuskan untuk patungan membuka galeri dari kerajinan Indonesia. Ada beberapa teman pengrajin yang sengaja kami datangkan ke New York, dengan hasil yang sama persis dengan barang-barang dari Indonesia, kami bisa menjual dengan lebih murah karena semua proses pembuatannya kami kerjakan di New York. Aku sendiri memegang humas dan marketing sementara Agnes bertanggung jawab dengan pembukuannya. Usaha kami cukup berhasil karena harga yang lebih murah dengan kualitas yang hampir sama dengan buatan-buatan Negara kami sendiri.
“Dinda, can I have a moment with you ?” pria itu kini berdiri didepanku.
“Sure Mat, why don’t you join me and order something ?”
“Then I’ll just leave you two alone, okay ?” ujar Agnes bergegas mengambil tasnya dan meninggalkan kami.
“Have I done something wrong ? You’ve been avoiding me this past week”
Aku menunduk terdiam, dua bulan ini aku sering meluangkan waktu bersamanya. Kami berkenalan ketika dia datang ke galeriku untuk melihat-lihat, dia tertarik dengan kerajinan Asia dan aku sering menemaninya berburu barang-barang eksotis dari berbagai negara. Matthew pria tampan yang menyenangkan dengan posisi yang cukup bagus di perusahaannya. Dan kini dia berniat menjalin hubungan serius denganku.
“I’m sorry Mat, but you know things won’t work out between us”
“Why not ? I thought we’re doing great together, I respect your idea not to have pre married sex and I can change my religion so we can get married in your country”
“It’s not that easy Mat, our parents will never agree to that. We have too much differences and I don’t want to get hurt again… and the truth is, I like being with you, but.. I’m not in love with you”
“God….” Matthew menutup matanya dan menghela nafas “Why is it so hard for you to open your heart for me ?” Dia menatapku dengan putus asa.
“I don’t know… I just..” aku kehilangan kata-kata untuk menjelaskan maksudku dan hanya bisa menatapnya dengan perasaan tidak enak.

Padahal diusiaku yang sudah 32 ini, tidak mudah mencari pria Indonesia baik-baik yang masih single. Aku tahu mungkin ini bukan saatnya untuk terlalu memilih soal pasangan. Adikku saja sudah mempunyai dua anak dan tinggal bersama suaminya dirumah orangtuaku. Mereka sudah lama menyerah tenang pernikahan, mereka hanya ingin aku hidup bahagia.
Dan aku memang bahagia, aku menjadi bos di perusahaan kecilku sendiri, aku menjalani hidup tanpa ada orang lain yang harus ku khawatirkan, mandiri dan dewasa, itulah definisi Dinda yang sekarang. Sering aku membayangkan kehidupanku jika dulu menikah dengan Arief, seperti apa diriku nanti, berapa anak yang akan kami punya dan akan seperti siapa mereka. Pikiran-pikiran yang membuatku tersenyum namun segera ku buang jauh-jauh. Sudah lama aku membuang Arief dari kehidupanku, menghapusnya dari rencana-rencana hidupku. Akhirnya aku menemukan keberanian untuk berjalan sendirian tanpa harus melihat padanya lagi.

Hari ini musim semi di New York, times square park terlihat dua kali lebih indah dari biasanya. Seperti biasa, di minggu sore ini aku menikmati waktuku dengan menyelesaikan sebuah novel di bangku taman.
“Dinda…” suara seseorang yang kukenal memanggilku.
Aku terdiam sejenak, cuaca yang hangat tapi aku merasakan udara dingin disekelilingku ketika melihat Arief berdiri disebelahku.
“Kamu…. ?”
“Kaget ?” Arief tersenyum “Aku sengaja membuat kejutan, aku dapat alamatmu dari Bunda, tadi teman apartemenmu bilang kau pergi kesini sendirian. Jadi ku pikir daripada bengong menunggu, aku iseng jalan-jalan kesini”
“Kamu gila ya ? You could get lost here, ini bukan Jakarta, Rif” aku memandangnya, diusianya yang sudah kepala tiga, berat badan yang sdah bertambah, ditambah jaket yang membungkusnya dia benar-benar mirip dengan sosok ayah ketika muda.
Arief tertawa kecil dan duduk disampingku “Habis kalau ngga begini bisa-bisa kamu menghindariku lagi” dia balas memandang dan aku merasa pipiku menghangat dengan tba-tiba.
Sial, aku tidak dandan sama sekali tadi, pikirku.
“Lima tahun ngga ketemu dan kamu cuma kuatir aku tersesat ? Kamu ngga kangen ya ?”
Aku gugup mendengar pertanyaannya “Ketemu teman lama, mana mungkin aku menghindar ? I’m glad to meet you too” jawabku berusaha sebiasa mungkin.
“Cuma glad, Din ?” matanya memandangku penuh harap.
“Aku ngga tau maksud kedatangan kamu Rif, jangan berharap terlalu tinggi padaku saat ini. Aku sudah bukan Dinda yang dulu lagi, impianku dan kehidupanku sudah berbeda”
Sesaat kami terdiam dalam lamunan kami, menikmati hangatnya sinar matahari New York dan suara anak-anak yang berlarian di sekitar.
“Aku datang untuk minta maaf” Arief memecah kebisuan sementara aku tetap diam.
“Aku dulu selalu bilang kita menikah jika aku sudah mapan agar kau bisa bahagia. Aku baru sadar kalau saat itu aku berbohong Din. Aku mengatakannya untuk diriku sendiri dan bukan untuk kamu. Untuk ambisi dan keinginanku sendiri, ingin menunjukkan kepada keluarga dan teman-teman bahwa aku bisa menjadi seseorang yang berhasil. Aku egois karena hanya mementingkan diriku sendiri tanpa memperdulikan keinginan dan impianmu sebagai perempuan. Aku…” Dia mengatur nafas untuk menyembunyikan kesedihan disuaranya.
“Dan yang paling bodoh, aku baru menyadarinya sekarang, setelah semua yang ku inginkan dapat ku capai. Kamu benar, sepuluh tahun bersama seseorang bukan jaminan kita benar-benar mengenalnya. Lihat aku… aku baru sadar bahwa aku memang ingin menempuh jalan untuk menjadi lelaki yang berhasil, tapi... tapi aku ingin kamu ada disampingku di sepanjang jalan itu…”
“Arief… kamu pikir aku ngga tahu ?” tanyaku pelan. “Dari dulu aku sudah tahu ambisimu itu, aku tahu kamu melakukannya bukan untuk aku, tapi untuk kepuasan batin kamu sendiri. Kamu pikir kenapa aku meninggalkan keluargaku untuk tinggal di tempat yang asing seperti ini ?” Aku memandangnya dan mulai meneteskan airmata.
“Aku tahu kamu belajar dua kali lebih keras dari murid yang lain, bekerja dua kali lebih giat dari teman-temanmu yang lain untuk menjadi seperti almarhum papamu. Pria mapan yang mampu memberi kenyamanan pada keluarga, jabatan yang penting di perusahaan, dan dihormati orang-orang disekitar, hidup bahagia sampai maut menjemput. Dan aku mencintaimu karena itu, aku juga ingin melihat kau berhasil meraih impianmu”
“Ketika aku tahu kita mempunyai impian yang berbeda, hal terakhir yang aku inginkan adalah menjadi beban untukmu. Karena itu aku pergi ke New York, waktu itu orangtuaku berniat memaksamu segera menikah, mungkin kalau aku membiarkan mereka, anak kita sekarang sudah tiga. Tapi aku tidak mau lima tahun sesudah kita menikah kau terbangun dan menyesalinya. Jadi aku menunggumu disini, sampai kau merasa puas dengan cita-citamu, tapi aku sudah berhenti menunggu lima tahun yang lalu”
“Aku benar-benar bodoh Din… aku minta maaf…” Arief mulai terisak dan menghindari tatapanku “Aku benar-benar bersalah padamu, membuatmu menunggu selama ini hanya karena kebodohanku..”
“Sekarang kamu sudah tahu kan ? Aku mohon kamu pulang saja dan jangan menemuiku lagi” pintaku sambil menghapus airmata. Airmata yang sudah lama kering karena penantian selama bertahun-tahun.
“Aku akan pulang, tapi aku mohon satu hal..” Arief berdiri dari kursinya dan tiba-tiba menjatuhkan diri ketanah. Dia berlutut didepanku sambil menggenggam jariku.
“Pulanglah bersama Din… Dinda, menikahlah denganku..” ucapnya dan menyerahkan cincin putih dengan dua belian diatasnya.
Rasanya seperti waktu berhenti di saat itu, aku tidak merasakan hembusan angin atau mendengar kicau burung. Aku hanya bisa terpaku menatap mata Arief dan perkataannya tadi terus berulang ditelingaku. Aku hanya bisa melihat ketulusan dan harapan di matanya, mata yang pernah memberiku berjuta harapan dan keteduhan.
“Dinda.. tolong jawab iya, kamu mau kan menikah denganku ?” dia bertanya lagi, kali ini airmata mengalir dipipinya.
Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam, tapi ketika aku sadar aku hanya bisa mengangguk dengan bahagia “Iya… tentu saja aku mau jadi istrimu” jawabku tersenyum dan menghapus airmatanya.
Sinar matahari sore itu benar-benar hangat dan mendamaikan jiwa kami.

Impianku selama ini untuk mendengar lelaki yang ku cintai melamarku akhirnya terwujud, memang memakan waktu delapan tahun dalam penantian, delapan tahun yang panjang dan aku sudah hampir menyerah, tapi akhirnya benar-bernar terwujud.





Ketakung
Senin, 16 April 2007 @ 14:46 WIB - Musik, Film & Hiburan


Nepenthes atau kantung semar. Di Bangka disebut juga dengan Ketakung, tanaman yang lagi trend di pameran2 dan getol2nya diburu orang setelah aglonema. Ketakung ini salah satu hobi baru papa di tempatnya yang baru. Biasanya tiap weekend papa dan beberapa temannya akan ke hutan untuk mencari ketakung dan tanaman tersebut aka dibawa pulang. Di rumah sendiri sudah tak terhitung berapa buah ketakung oleh2 papa dari Bangka, belum lagi yang dibagikan ke saudara dan tetangga. Kalau beli di jakarta, harganya beragam mulai dari 80 ribu yang masih kecil sampai jenis langka yang harganya bisa sampai 20 juta.
Karena harganya itulah sudah sebulan ini tiap malam mama memasukkan tanamannya dan baru dikeluarkan pada siang hari. Hehe, pengalaman buruk waktu salah satu aglonema ditawar orang satu juta tapi ngga dilepas mama, beberapa hari kemudian tanaman itu lenyap bersama potnya.
Mama dan papa saya sudah setahun belakangan ini memang hobi dengan tanaman dan rajin ke pameran2 flora di banteng atau cibubur. Jadi mama lumayan telaten merawat kantung semarnya.
Sampai hari minggu kemarin, mama pagi2 sudah pergi keluar dan hanya menitip pesan pada saya untuk mengeluarkan tanamannya ke teras. Lima menit pertama saya hanya bisa memandang pot2 tersebut. O my God, mereka berbulu gitu lho, ada kantungnya dan kantungnya itu berbulu, saya langsung berpikir apakah jika saya menyentuhnya maka kantung tersebut akan menggigit jari saya. Dengan khawatir saya menggeser pot2 tersebut dengan kaki, hahaaha... Bukan hanya takut digigit, tapi geli banget liatnya. Ngga tau deh darimana orang2 bisa suka sama tanaman ini. Kata orang sih ini tanaman pembawa hoki tapi keluarga kami memeliharanya lebih supaya papa punya kesibukan lain di Bangka.
Pada awalnya, lumayan susah untuk ngerawat kantung semar, ngga menggunakan medium ataupun pupuk, air juga tidak boleh terlalu banyak dan yang disiram bukan akar melainkan kantungnya. Ternyata supaya mereka tumbuh kuat dan segar, kita harus memasukkan semut kedalam kantung2 tersebut, tidak perlu banyak tapi setiap hari secukupnya masukkan serangga ketiap kantung.
Ada yang tertarik ? Menurut saya ketakung itu tanaman yang aneh, tapi orang yang hobi mengoleksi tanaman mungkin akan tertarik yah


Disarankan: 0
  Komentar: 12 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



S E L A N J U T N Y A »



 


saHIVa
Get
 
    » Profile